SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL: APAKAH SUDAH PRO-RAKYAT?

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Kutipan diatas pasti tak asing lagi bagi telinga para pelajar sekolah-sekolah dasar di Indonesia, namun apakah kalimat-kalimat tersebut memiliki arti di hati dan di pikiran para penerus bangsa adalah cerita lain yang masih perlu diverifikasi. Pembukaan UUD 1945 ini tak henti-hentinya dikumandangkan di setiap upacara hari Senin selama 9 tahun saya menempuh pendidikan dari SD hingga SLTP. Dalam 9 tahun penanaman secara repetitif yang dilakukan tersebut pula, saya yakin hanya sedikit orang yang benar-benar meresapi apa yang disebutkan di setiap kalimat bersejarah tersebut. Hal ini sungguh sangat disayangkan, mengingat UUD 1945 dibuat sedemikian rupa melalui perjuangan yang tidak mudah dan tidak sebentar oleh para pendiri bangsa Indonesia. Satu hal yang saya rasa sangat penting namun lalai diwujudkan oleh pemerintah dalam kalimat diatas adalah tentang membentuk suatu pemerintah yang  bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kali pertama saya menjadi sosok individu yang sangat memperhatikan dunia pendidikan adalah ketika saya duduk di kelas satu (1) SLTP. Sebagai insan muda yang sangat kritis, banyak hal yang menjadi pertanyaan di kepala saya tentang cara mengajar guru-guru sekolah yang sangat berbeda dengan guru les saya kala itu. Memang aneh tapi nyata, meskipun materi yang diajarkan persis sama, skill yang dimiliki juga kemungkinan besar sama, akan tetapi cara penyampaian dan penerimaan saya terhadap materi tersebut sangatlah berbeda. Singkatnya, bagi saya, dan saya yakin sebagian besar teman saya pun sependapat, guru sekolah sangatlah membosankan dan seringkali tidak menjelaskan pelajaran dengan cara yang mudah dipahami siswa. Kenyataan bahwa saya tak pernah absen mendapat ranking 10 besar sejak SD hingga SMU seringkali bukan merupakan hasil belajar di kelas semata, namun hasil dari belajar sendiri atau kursus diluar. Bukan rahasia umum bahwa hampir seluruh pelajar zaman sekarang ini mengikuti kursus tambahan diluar sekolah, yang secara gamblang juga berarti “sekolah saja tidaklah cukup”. Tak hanya kreatifitas cara mengajar para guru sekolah yang saya rasa kurang, kurikulum nasional yang dicanangkan pun sangatlah tidak pro-rakyat. Yang saya maksud dengan pro-rakyat disini adalah memiliki tolak ukur yang adil, mendukung kemajuan siswa, mempercerdas siswa, serta meningkatkan kompentensi siswa. Contoh nyata banyak terlihat ketika Ujian Nasional yang selalu dilaksanakan bagi siswa kelas enam (6) SD, 3 (tiga) SLTP, dan 3 (tiga) SMU. Dibalik kebesaran Indonesia yang memiliki lebih dari 17,000 pulau, pendidikan di Indonesia sangatlah tidak merata sehingga Ujian Nasional yang dilaksanakan tidaklah bersifat nasional seperti sebutannya. Soal Ujian Nasional tidaklah sama di seluruh tempat di Indonesia dan seringkali menuai sensasi soal bocoran. Seringkali juga beredar isu bahwa nilai para siswa yang tinggi seringkali disumbangkan oleh pemerintah bagi siswa yang nilainya kurang agar terjadi pemerataan secara disengaja. Lebih lagi, banyak guru-guru memberi jawaban semasa ujian agar para siswanya lulus demi menjaga gengsi sekolah.

Ketertarikan saya terhadap dunia pendidikan tak hanya saya nyatakan dalam peran sebagai penerima saja (baca: siswa), namun juga sebagai pemberi (baca: pengajar). Hobi mengajar yang sudah saya geluti sejak SLTP dan berlanjut terus hingga saya menjadi mahasiswa S1 di Bandung. Pertama kali liburan semester pendek kuliah saya isi dengan melamar sebagai part-timer di sebuah bimbel yang cukup ternama di Bandung, dan berlanjut menjadi guru privat hingga sarjana. Selain gemar mencari tambahan uang jajan, saya juga cukup menggilai organisasi sosial dimana lagi-lagi saya berkecimpung dengan hobi saya di dunia pendidikan. Setiap kali ada kuliah siang yang kosong, minimal dua kali dalam seminggu, saya dan beberapa teman sepakat untuk memberikan pelajaran tambahan di dua (2) buah SD negeri di belakang kampus secara gratis. Tak cukup dengan itu, setiap hari Minggu sore pun saya dan beberapa teman meluangkan waktu untuk mengajar di sebuah panti asuhan Muslim yang cukup jauh dari tempat kos. Dari pengalaman sebagai pemberi dan penerima itulah saya melihat dan belajar banyak hal, mulai dari minimnya pemahaman yang diberikan sekolah pinggiran, hingga betapa kakunya sistem pendidikan di Indonesia yang melulu teori, yang seolah-olah dirancang agar para siswa menjadi tidak kritis, pembodohan massal.

Anda mungkin pernah mendengar bahwa apabila seorang anak kecil diasuh oleh seorang gila, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi orang gila? Kalimat ini sebenarnya menguatkan maksud bahwa pikiran seorang anak kecil sangatlah rentan dan sangat mudah dibentuk. Singkatnya, seorang anak akan hanya mengikuti dan mempercayai apa yang ditanamkan kepadanya sejak kecil. Ketika saya melihat secara lebih mendalam, permasalahan pendidikan di Indonesia membentuk sebuah lingkaran yang tak berkesudahan. Lingkaran setan ini tak akan memiliki ujung apabila tidak ada pihak yang menggunting, membenahi, ataupun membuang salah satu masalah yang ada. Ketika negara Indonesia tidak memiliki sistem pendidikan nasional yang baik, maka mustahil dapat terjadi kualitas pendidikan anak Indonesia yang baik pula. Dengan kualitas pendidikan yang baik, niscaya akan terbentuk mental anak baik pula. Apabila generasi muda bangsa telah memiliki modal mental yang baik, barulah bangsa Indonesia boleh merasa aman akan kualitas generasi pemimpin masa depan, yang nantinya akan menjadi penerus bangsa, yakni pejabat pemerintahan. Ketika pejabat pemerintahan di negara Indonesia memiliki kualitas yang baik maka niscaya sistem pendidikan nasional yang baik dapat dicanangkan dan diwujudkan.

Memang benar, segelintir anak bangsa telah menorehkan tinta emas di bidang pendidikan dalam kancah Internasional, namun hal tersebut masih tak mampu menutupi kenyataan bahwa sistem pendidikan secara umum masih sangat tidak merata, bahkan terbelakang baik dari segi sarana prasarana serta materi yang diberikan. Menurut pendapat saya, yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah orang yang peduli dan mau bertindak, bukanlah orang-orang pintar. Apabila pemerintah sebagai penguasa regulasi mau mengkaji ulang secara komprehensif serta mencanangkan suatu sistem yang pro-rakyat, saya percaya dan yakin bahwa bangsa Indonesia dapat kembali memperoleh martabatnya di mata bangsa sendiri maupun bangsa asing. Seandainya dilaksanakan dengan baik, barangkali anak Indonesia tak perlu lagi mengalami penurunan kelas apabila ingin bersekolah diluar negeri karena dianggap pendidikannya lebih rendah. Saya menghimbau kepada semua pihak yang belum peduli dan kepada yang sudah peduli namun belum bertindak agar mulai berperan aktif dalam pembentukan mental anak Indonesia, yang tak lain tak bukan adalah masa depan kita bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s